Perlukan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum?

Perlukan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum

Perlukan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum?

Perlukan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum
Perlukan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum

Orang tua dan guru, menjadi garda terdepan pendidikan seks bagi anak.

Perlahan tapi pasti, orang tua dan guru harus menanamkan pendidikan seks sesuai dengan tahap pertumbuhan anak.

Menurut Psikolog Pendidikan dari Universitas Airlangga Nur Ainy Fardana, pendidikan seks tidak perlu dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. Karena pendidikan seks dapat diintegrasikan sesuai tahap perkembangan anak.

Jadi peran guru dan orang tua lah yang mendapatkan porsi lebih.

’’Misalnya saat usia tiga tahun, guru bisa menyisipkan cara belajar bagaimana menjaga bagian tubuhnya,’’ ungkap perempuan yang akrab disapa Neni tersebut.

Atau bahkan bisa diberikan pengertian yang lebih spesifik. Yaitu mana bagian tubuh yang harus selalu ditutup. Dan kenapa harus selalu ditutup. Karena tidak boleh ada yang menyentuh kecuali dirinya sendiri dan orang tua.

Kalau ada yang menyentuh, dia harus berani berteriak atau bercerita kepala orang tua karena

hal itu adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan. Seperti itulah pengertian yang diberikan untuk anak usia tiga tahun. ’’Kalau memberi pengertian harus konkrit dan spesifik. Supaya anak jelas dan berani bercerita kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan,’’ imbuh Dosen Fakultas Psikologi Unair tersebut.

Bila anak terlihat bingung, guru dan orang tua bisa menggunakan media boneka atau cerita bergambar ketika menjelaskannya. Bila anak beranjak remaja, orang tua bisa memberikan buku pengetahuan dasar pendidikan seks yang dijual di toko buku. Lebih baik dengan buku bergambar yang terlihat fun. Supaya anak mudah mengerti dan tidak menganggap hal tersebut sebagai hal serius yang harus dipendam sendiri sampai tidak mau bertanya. (*)

 

Baca Juga :