Perkembangan MDGs Menjadi SDGs

Perkembangan MDGs Menjadi SDGs

Perkembangan MDGs Menjadi SDGs

Perkembangan MDGs Menjadi SDGs

Pada bulan September tahun 2000

saat berlangsungnya pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa di New York, Kepala Negara dan perwakilan dari 189 negara menyepakati Deklarasi Milenium yang menegaskan kepedulian utama secara global terhadap kesejahteraan masyarakat dunia. Tujuan Deklarasi yang disebut Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals -MDGs) menempatkan manusia sebagai fokus utama pembangunan dan mengartikulasi satu gugus tujuan yang berkaitan satu sama lain ke dalam agenda pembangunan dan kemitraan global.


Setiap tujuan dijabarkan ke dalam satu sasaran atau lebih dengan indikator yang terukur yaitu: terkait pengurangan kemiskinan, pencapaian pendidikan dasar, kesetaraan gender, perbaikan kesehatan ibu dan anak, pengurangan prevalensi penyakit menular, pelestarian lingkungan hidup, dan kerjasama global. MDGs yang didasarkan pada konsensus dan kemitraan global ini, juga menekankan kewajiban negara maju untuk mendukung penuh upaya tersebut (Bappenas, 2011).


Upaya yang dilakukan pemerintah dalam pencapaian target-target MDGs,dengan mengintegrasikan prioritas MDGs dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-2025), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2005-2009 dan 2010-2014), Rencana Pembangunan Tahunan Nasional (RKP), serta dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai realisasinya, maka melalui Instruksi Presiden No.3 Tahun 2010 telah ditetapkan tujuan prioritas pembangunan yang berkeadilan yang berpihak pada pencapaian MDGs.


Sebagai salah satu bentuk implementasi dari Inpres No.3 Tahun 2010, maka Kementerian PPN/Bappenas telah menyusun Peta Jalan (Road Map) pencapaian tujuan pembangunan MDGs yang diikuti dengan penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk percepatan pencapaian MDGs yang difasilitasi langsung oleh Bappenas dan Bappeda. Selanjutnya masing-masing Kepala Daerah akan mengesahkan Rencana Aksi Daerah (RAD) MDGs tersebut (Bappenas, 2011).


Di Indonesia, pelaksanaan MDGs telah memberikan perubahan yang positif. Walaupun masih ada beberapa target MDGs yang masih diperlukan kerja keras untuk mencapainya, tetapi sudah banyak target yang telah menunjukan kemajuan yang signifikan bahkan telah tercapai. Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yaitu $1,25 per hari, sudah berkurang setengah miliar. Laju kematian anak turun lebih dari 30 persen, dengan sekitar tiga juta jiwa anak terselamatkan setiap tahunnya dibandingkan tahun 2000.


Kematian akibat malaria juga turun hingga seperempatnya. Indonesia berhasil menurunkan proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari US$ 1,00 (PPP) per kapita per hari dari 20,60 persen pada tahun 1990 menjadi 5,90 persen pada tahun 2008. Pemerintah juga telah berhasil menurunkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan lanjutan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan yang signifikan pada indikator rasio Angka Partisipasi Murni (APM) perempuan terhadap laki-laki SMA/MA/ Paket C dari 93,67 persen ada tahun 1993 menjadi 101,40 persen pada tahun 2011. Selain itu, angka kejadian tuberkulosis di Indonesia sudah berhasil mencapai target MDGs yaitu dari 343 pada tahun 1990 menjadi 189 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2011 (BPS, 2015).


Di tahun 2015, MDGs berakhir. Banyak target yang terpenuhi dan banyak juga yang masih jauh dari target. Dunia pun berubah. MDGs dari yang awalnya berisi 8 tujuan dirasakan perlu disesuaikan dengan kondisi dunia terkini. Berbagai actor pembangunan internasional pun merumuskan pengganti MDGs sehingga terbentuk skema pembangunan multilateral terbaru yakni yang dikenal sebagai Sustainable Development Goals/SDGs . Agenda SDGs atau disebut juga dengan AGENDA 2030 akan menjadi kerangka kerja pembangunan global baru dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan (Prapti, 2015).


Sumber: https://www.senantiasatour.co.id/wheels-of-aurelia-apk/