Peran Media dalam Pembelajaran

Peran Media dalam Pembelajaran

Peran Media dalam Pembelajaran

Seperti yang telah disebutkan diatas media sangat berperan penting dalam proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran. Terdapat beberapa alasan pentingnya media dalam pembelajaran  , yaitu :

  1. Objek   itu abstrak sehingga memerlukan peragaan dengan alat pembelajaran  , materi   yang abstrak disajikan kedalam pendekatan yang lebih konkret, ada visualisasinya, serta manfaat dalam mempelajari materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sementara menurut Murwani (1999), untuk membelajarkan   secara benar pada siswa mutlak harus menggunakan alat peraga untuk memudahkan siswa mengenal konsep‑konsep  .
  2. Sifat materi   tidak mudah dipahami materi dari   bersifat abstrak, hal ini menjadikan materi   tidak mudah dipahami oleh kebanyakan siswa. Maka dari itu dengan alat pembelajaran   siswa diharuskan berpartisipasi lebih aktif, mereka tidak hanya melihat, mendengar, dan memperhatikan saja, tetapi mereka juga harus melakukan/latihan, sehingga pembelajaran minds on dan hands on bisa tercapai, konsep dibangun oleh siswa sendiri.
  3. Hirarki   ketat dan kaku. Dalam   terdapat materi prasyarat yang diperlukan untuk dapat menginjak ke materi selanjutnya. Hirarki belajar menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau up down (Orton,1987). Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran di puncak dari hirarki belajar tersebut, diikuti kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan prasyarat (prerequisite) yang harus mereka kuasai lebih dahulu agar mereka berhasil mempelajari keterampilan atau pengetahuan diatasnya.  Hirarki   bersifat ketat dan kaku artinya dalam pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip dan konsep-konsep terdefinisi sebagai prasyaratnya, yang membutuhkan konsep konkret sebagai prasyarat berikutnya lagi. Jadi diperlukan media agar dapat menuntun untuk terbiasa dalam belajar   yang tatanannya bersifat siatematis dan cenderung kaku.
  4. Aplikasi   kurang nyata. Dapat dirasakan oleh siswa bahwa aplikasi   itu kurang nyata, bahkan siswa hanya menganggap bahwa   adalah kumpulan angka dan simbol-simbol. Oleh karena itu diperlukan media agar   dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu siswa juga dapat dengan mudah dalam mempelajari konsep-konsep dalam  .
  5. Belajar   perlu fokus.   memang tidah mudah dipahami, serta hirarkinya yang kaku sehingga membuat siswa menjadi kesulitan dalam mempelajari  . Maka dari itu siswa harus fokus ketika guru sedang menerangkan materi  , sedangkan kebanyakan guru menggunakan metode ceramah dalam pembelajarannya. Akibatnya siswa menjadi cepat lelah dan bosan dalam belajar  , oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kreatifitas dalam pembelajaran  . Alat peraga dapat membatu guru untuk menyampaikan ide atau gagasannya dalam pembelajaran   agar siswa lebih aktif dan tidak bosan.
  6. Citra pembelajaran   kurang baik. Pandangan siswa saat ini terhadap   memang kurang baik, mereka berpandangan bahwa pembelajaran   itu menakutkan, tegang, bosan dan banyak PR. Hal ini disebabkan karena guru kurang dapat mengkomunikasikan materi   yang bersifat kaku tersebut agar dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Pembelajaran   di sekolah sampai saat ini umumnya dimulai dari penyampaian definisi atau pengertian dari suatu objek secara intuitif, dilanjutkan dengan pengoperasian terhadap objek tersebut, serta diakhiri dengan pemberian contoh kemudian pemberian tugas atau PR yang banyak sebagai latihan. Dalam pembelajaran   yang notabennya banyak siswa yang menganggap bahwa   itu sulit, penuh dengan rumus-rumus dan angka-angka, sehingga sebelum kegiatan pembelajaran dimulai siswa sudah menyerah dan merasa tidak akan mampu menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan, hal ini mengakibatkan siswa menjadi tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Maka dari itu alat peraga dapat membantu guru untuk mengubah paradigma yang selama ini berkembang pada masyarakat pada umumnya dan siswa khususnya.
  7. Kemampuan kognitif siswa masih konkret. Pada dasarnya kemampuan kognitif siswa itu konkret, sedangkan materi   itu bersifat abstrak. Hal ini akan menjadi hambatan bagi siswa dalam pembelajaran  . maka untuk memahami konsep dan prinsip masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkret (Soedjadi, 1995:1) Suatu konsep diangkat melalui manipulasi dan observasi terhadap obyek konkret, kemudian dilakukan proses abstraksi dan idealisasi. Jadi dalam proses pembelajaran  , peranan media/alat peraga sangat penting untuk pemahaman suatu konsep atau prinsip.

Peran Media dalam Pembelajaran

 

baca juga :