Pencapaian MDGs dalam Bidang Kesehatan

Pencapaian MDGs dalam Bidang Kesehatan

Pencapaian MDGs dalam Bidang Kesehatan

Pencapaian MDGs dalam Bidang Kesehatan

Kematian ibu di Indonesia masih tetap tinggi

dan ada lima penyebab kematian ibu seperti perdarahan, hipertensi pada kehamilan, infeksi, persalinan macet, macet dan aborsi. Dan dari penyebab ini, perdarahan, hipertensi pada kehamilan, dan infeksi dominan dalam kematian ibu. Proporsi dari tiga penyebab kematian ibu sebenarnya telah berubah, yang pendarahan dan infeksi cenderung menurunkan sementara meningkatkan proporsi hipertensi pada kehamilan.


Hal ini lebih dari 30% dari kematian ibu di Indonesia di 2010 disebabkan oleh hipertensi pada kehamilan. Ada tiga jenis daerah intervensi untuk mengurangi angka kematian dan maternal dan morbiditas neonatal, yaitu melalui: kenaikan pertama dalam perawatan antenatal mampu mendeteksi 21 dan menangani kasus 22 dari berisiko tinggi memadai; Bantuan kedua persalinan bersih 18 dan aman dengan kesehatan yang terampil personel, 20 pasca-persalinan perawatan dan kelahiran; 23 kebidanan ketiga dan perawatan neonatal dan dasar yang komprehensif yang dapat dicapai (Tosepu, 2016).


Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014, 24 ditargetkan pada akhir 2014 di masing-masing kabupaten / kota ada di Setidaknya empat pusat kesehatan mampu Neonatal dasar rawat inap dan Kabupaten Rumah Sakit mampu menerapkan komprehensif. 25 Melalui pengelolaan dasar dan perawatan neonatal komprehensif, kesehatan pusat dan rumah sakit diharapkan menjadi institusi terkemuka di mana komplikasi dan rujukan kasus dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat.


Nutrisi Anak 4 Di antara 33 provinsi di Indonesia, ada 19 provinsi memiliki prevalensi balita gizi di atas nasional Tingkat prevalensi, mulai dari 19,7% sampai dengan 33,1%. Atas dasar target MDG pada 2015, itu tiga provinsi yang memiliki mencapai sasaran, yaitu 13,2% di Bali, 14,0% di Jakarta, dan 15,1% di Bangka Belitung. Kondisi ini masih tetap masalah serius, terutama bagi mereka provinsi memiliki prevalensi malnutrisi pada anak balita antara 20,0-29,0%, dan dianggap sangat tinggi ketika prevalensi lebih dari 30% (Tosepu, 2016).


Daerah ini terkena malaria terutama di Timur Indonesia, 30 terutama Papua provinsi yang terletak sebagai endemik malaria, 31 morbiditas peringkat pertama dari 10 penyakit utama. Malaria di Papua masih sulit untuk memberantas karena tidak memadai peraturan lingkungan, rendah status ekonomi yang mengarah ke malnutrisi, 32 pelayanan kesehatan terbatas dan kurangnya tenaga medis, resistensi obat disebabkan oleh orang-orang yang tidak mematuhi di minum obat dan perilaku kurang mendukung gaya hidup sehat. Dalam hal ini, mobilitas orang ke daerah ini 33 memiliki risiko besar tertular malaria.


Di samping itu, Perubahan iklim, 34 kebakaran hutan 35 dan Proses perkembangan pesat menyebabkan penyebaran penyakit. Oleh karena itu, Malaria membutuhkan penanganan multidimensi, baik masyarakat dan pemerintah harus aktif dalam mengatasi masalah ini. Publik tenaga kesehatan sebagai bagian dari tenaga kesehatan di Indonesia memiliki berbagai metode dalam memecahkan kasus malaria. metode-metode termasuk upaya pencegahan dengan melakukan Pendekatan masyarakat. 36 Pendekatan ini sangat penting karena akan menyebabkan kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan pekerja. Tahap berikutnya dari petugas kesehatan akan dengan mudah memberikan masukan dan kesehatan pesan pesan mereka. Sehingga pembentukan kepercayaan antara masyarakat dan petugas kesehatan adalah kunci keberhasilan program kesehatan, seperti pendidikan kesehatan program (Tosepu, 2016).


Sumber: https://www.schrammek.co.id/fabulous-apk/