Pelajaran dari RUU Pornografi

Pelajaran dari RUU Pornografi

Pelajaran dari RUU Pornografi

Pelajaran dari RUU Pornografi
Pelajaran dari RUU Pornografi

Hiruk pikuk pro kontra RUU Pornografi yang baru saja disyahkan beberapa hari kemarin menyisakan sebuah pelajaran berharga tentang demokrasi bagi kita semua. Terlepas dari untung rugi disyahkannya RUU tersebut ataupun penerimaan maupun penolakan terhadapnya sepertinya ada sesuatu yang perlu kita ingat kembali yakni:

  1. Kita sepakat bahwa bentuk negara kita adalah republik (kekuasaan di tangan rakyat) (UUD 45 ps. 1 ay.1)
  2. Kita telah sepakat menggunakan demokrasi sebagai filosofi, lembaga dan mekanisme pendelegasian kekuasaan yang (katanya) di tangan rakyat tersebut. (UUD 45 ps. 1-16 ?)

Yang unik dari pro kontra RUU pornografi adalah bahwa pihak yang pro, kontra, di tengah-tengah ataupun yang abstain sama-sama menggunakan alasan demokrasi sebagai salah satu dalil pembenar argumennya. Kalau dirangkumkan argumen-argumen terkait “demokrasi” tersebut, mungkin berikut ini adalah ringkasannya:

PRO 
Kan ini demokrasi, tinggal ikut mekanisme pemhasaan RUU di parlemen saja napa?. Kalau musyawarah mufakat tidak tercapai ya voting. Kalau yang menang voting adalah yang mendukung RUU, ya harus fair dong RUU harus diterima. Di dalam sistem demokrasi pasti ada pihak yang tidak puas.

KONTRA
Sebagai negara yang demokratis ya harus mengakui keberagaman bangsa kita yang memang majemuk dong. Sudah jelas-jelas beberapa daerah menolak bulat-bulat RUU ini karena mengancam tradisi dan budaya lokal, kok masih dipaksakan, ini jelas tidak demokratis dong.

Tengah-tengah
Demokrasi yang membuat minoritas merasa terpinggirkan itu bukanlah demokrasi yang kita inginkan. Janganlah karena alasan demokrasi lantas kita nggak mau tahu keberatan kelompok lain karena kita mayoritas.

ABSTAIN
Kan demokrasi, boleh abstain juga dong 🙂 (biasanya ditambahi we ke ke ke gitu aja kok repot)

Tampaknya salah satu alasan mengapa RUU ini menjadi kontroversi adalah cara pandang terhadap demokrasi tersebut.

Pelajaran

Meskipun demokrasi telah dikritik sepanjang masa sebagai sistem yang tidak ideal dan telah membuktikan diri berkali-kali sebagi sistem yang tidak ideal namun menurut saya kita tidak punya pilihan lain. Kalau kita mengakui bahwa bangsa kita terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, dan ideologi. Kalau kita masih mau hidup berdampingan secara setara, duduk sama rendah berdiri sama tinggi diantara sesama anak bangsa maka demokrasi adalah satu-satunya pilihan. Kalaulah kawan-kawan masih sepakat demokrasi adalah “jalan hidup” bersama dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia dan NKRI harus terus dijaga, maka marilah kita merenungkan yang berikut ini.

Bagi kawan-kawan yang merasa tersakiti, termarginalkan dan terancam dengan disyahkannya RUU ini, ingatlah bahwa kita telah bersepakat untuk menggunakan mekanisme ini. Kalaupun dimenangkan dengan cara voting, selama prosedur legislasi telah dilakukan dengan benar, seharusnya kita bisa mengakuinya secara fair. Kalaulah kita masih tidak setuju, mari tempuh jalur legislasi yang lain, seperti diajukan judicial review ke MK dll. Tidak ada alasan untuk berbuat merusak kesatuan negeri (separatisme). Mari bareng-bareng membangun demokrasi di Indonesia agar menjadi demokrasi yang adil buat semua.

Bagi kawan-kawan yang kemaren menggebu-nggebu mendukung RUU ini, ingatlah bahwa ada sebagian anak bangsa saudara kita setanah air yang merasa terpinggirkan. Tidak merasa aman dan mulai merasa dianggap sebagai warga negara kelas dua. Renungkanlah, bahwa akhir-kahir ini, bangsa kita menjadi lebih rentan dan sensitif untuk hidup bersama dalam perbedaan. Ingatlah bahwa perasaan terpinggirkan dan terancam tersebut bisa mewujud dalam bentuk reaksi balik dari berbagai daerah di tanah. Misalkan ancaman separatisme, menguatnya fundamentalisme agama, kohesivitas sosial yang merenggang dll.

Bagi siapa saja yang masih percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya sistem pendelegasian kekuasaan terbaik buat Indonesia dan menghendakiRepublik Indonesia tidak boleh tercabik lagi marilah bersama-sama:

  1. Terus menerus mengembangkan dialog konstruktif di ruang publik
  2. Mendidik diri sendiri, keluarga dan lingkungan yang terjangkau agar kritis dan sadar politik
  3. Memenuhi kewajiban sebagai warga negara dan berani menuntut hak warga negara ketika berhadapan dengan birokrasi.
  4. Aktif membangun budaya saling menghormati dan empati
  5. Bersikap profesional dalam bidang pekerjaan masing-masing (baca hubungan demokrasi dan profesionalisme di Kompas cetak, Sabtu, 05 Agustus 2006 atau di sini ).
  6. Meningkatkan kemakmuran diri, keluarga/lingkungan dengan cara yang baik (soal hubungan kesejahteraan ekonomi dan demokrasi: baca ini atau ini)
  7. dll (ada yang mau menambahkan)

Dengan melakukan hal itu secara aktif dan konsisten kita berharap agar Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat, adil dan makmur. Diharapkan bangsa kita terhidar dari orang-orang yang berpikiran sempit dan berupaya mengganti dasar filosofi bangsa kita (pancasila) menjadi filosofi berbasis agama, suku atau budaya tertentu. Kelompok-kelompok fundamentalis yang tidak mau berdiskusi atau mendengar pendapat saudara sebangsanya yang lain diharapkan berangsur-angsur akan terkikis. Setiap anak bangsa masih bisa pergi dan hidup di manapun di kolong langit nusantara, tanpa takut terdiskriminasi ketika berada di daerah yang mayoritas penduduknya tidak seagama atau tidak sesuku dengannya.

Yang paling diharapkan adalah kedewasaan dalam berdemokrasi. Sebuah demokrasi yang mampu menjadi pengayom buat semua. Sistem sosial dimana kelompok mayoritas tersalurkan aspirasinya, kelompok minoritas merasa terlindungi.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/