Macam-Macam Kurikulum

Macam-Macam Kurikulum

Dalam kurikulum nasional, semua program belajar sufah baku, dan siap untuk digunakan oleh pendidik atau guru. Kurikulim yang demikian sering bersifat resmi dan dikenal dengan nama ideal curriculum, yakni kurikulum yang masih berbentuk cita-cita. Kurikulum yang masih berbentuk cita-cita ini masih perlu dikembangkan menjadi kurikulum yang berbentuk pelaksanaan, atau sering dikenal dengan actual curriculum, yakni kurikulum yang dilaksanakan oleh pendidik dalam proses belajar mengajar.
Dalam menyusun kurikulum, sangatlah tergantung pada asas organisatoris, yakni bentuk penyajian bahan pelajaran atau organisasi kurikulum. Ada tiga pola organisasi kurikulum, yang dikenal juga dengan sebutan macam-macam kurikulim atau tipe-tipe kurikulum. Macam-macam kurikulum tersebut adalah:

1. Separated Subjek Curriculum

Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum matapelajaran yang terpisah satu sama lainnya. Kurikulum mata pelajaran terpisah (separated subject currikulum) berarti kurikulumnya dalam bentuk matapelajaran yang terpisah-pisah, yang kurang mempunyai keterkaitan dengan matapelajaran lainnya. Konsekuensinya, anak didik harus semakin banyak mengambil mata pelajaran.
Tyler dan Alexandermenyebutkan bahwa jenis kurikulum ini digunakan dengan scool subject, dan sejak beberapa abad hingga saat ini pun masih banyak didapatkan di berbagai lembaga pendidikan. Kurikulum ini terdiri dari matapelajaran-matapelajaran yang tujuan pelajarannya adalah anak didik harus menguasai bahan dari tiap-tiap matapelajaran yang telah ditentukan secara logis, sistematis, dan mendalam (Soetopo & Soemanto, 1993: 78).[7]
Kurikulum matapelajaran dapat menetapkan syarat-syarat minimum yang harus dikuasai anak, sehingga anak didik bisa naik kelas. Biasanya bahan pelajaran dan textbook merupakan alat dan sumber utama pelajaran. Kurikulum matapelajaran atau subject curriculum terdiri dari matapelajaran (subject) yang terpisah-pisah, dan subject itu merupakan himpunan pengalaman dan pengetahuan yang diorganisasikan secara logis dan sistematis oleh para ahli kurikulum (experts).
2. Correlated Curriculum
Kurikulum jenis ini mengandung makna bahwa sejumlah matapelajaran dihubungkan antara yang satu dengan yang lain, sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas. Sebagai contoh, pada matapelajaran fiqh dapat dihubungkan dengan matapelajaran Al-Quran dan Hadist. Pada saat anak didik mempelajari shalat, dapat dihubungkan degan pelajaran Al-Quran (surat Al-Fatihah, dan surat lainnya) dan hadist yang berhubungan dengan shalat, dan lain sebagainya.
Masih banyak cara lain menghubungkan pelajaran dalam kegiatan kurikulum. Korelasi tersebut dengan memerhatikan tipe korelasinya, yakni:
a. Korelasi okkasional/insidental, maksudnya korelasi dilaksanakan secara tiba-tiba atau insidental. Misalnya: pada pelajaran sejarah dapat dibicarakan tentang geografi dan tumbuh-tumbuhan.
b. Korelasi etis, yang bertujuan mendidik budi pekerti sehingga konsentrasi pelajarannya dipilih pendidikan Agama. Misalnya pada Pendidikan Agama itu dibicarakan cara-cara menghormati: tamu, orang tua, tetangga, kawan, dan lain sebagainya.
c. Korelasi sistematis, yang mana korelasi ini biasanya direncanakan oleh guru. Misalnya: bercocok tanam padi dibahas dalam geografi dan ilmu tumbuh-tumbuhan.

Sumber: https://veragibbons.com/alasan-bisnis-tidak-bisa-lepas-dari-ancaman-siber/