Ijtima’ dan posisi hilal di atas ufuk

Ijtima’ dan posisi hilal di atas ufuk

                 Kelompok ini menganggap bahwa awal bulan kamariah dimulai sejak saat terbenam matahari setelah terjadi ijtimak dan hilal pada saat itu sudah berada di atas ufuk dan 2 macam tersebut itulah yang menjadi acuan penentu awal bulan kamariah.[10] Aliran ijtimak dan posisi hilal di atas ufuk ini kemudian terbagi menjadi tiga bagian.  Masing-masing memberikan interpretasi yang berbeda di atas ufuk.  Perbedaan ini dilandasi 2 masalah,  yakni:[11]

(1)  Ufuk/horizon yang dijadikan batas untuk mengukur apakah hilal sudah berada di atas ufuk atau belum pada saat terbenam matahari.

(2)  Penampakan hilal yang menjadi ukuran (visibilitas hilal).

Dari 2 hal tersebut,  maka lahirlah 4 aliran/kelompok,  yakni:

(1)  Ijtimak dan Ufuk Hakiki

                 Awal bulan kamariyah dimualai saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ dan pada saat itu hilal sudah berada diatas ufuk hakiki ( true horizon). Ufuk hakiki adalah lingkaran bola langit yang bidangnya melalui titik pusat bumi dan tegak lurus pada garis vertikal dari si peninjau, sedangkan posisi atau kedudukan hilal pada ufuk adalah posisi atau kedudukan titik pusat bulan pada ufuk hakiki. Jelasnya metode ini awal bulan komariyah dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtimak dan pada saat itu titik pusat bulan berada di atas ufuk hakiki.

(1). Ijtimak dan Ufuk Hissi

     Madzhab ini menetapkan awal bulan bila hilal telah wujud di atas ufuk hissi (bidang datar yang melewati mata si pengamat dan sejajar dengan ufuk hakiki),  pada saat matahari tenggelam pada akhir bulan yang sedang berjalan.  Madzhab hilal di atas ufuk hissi ini menggunakan bidang datar yang sejajar dengan ufuk hakiki yang berada pada permukaan bumi di mana pengamat berada.  Namun,  madzhab ini tidak terlalu populer dan sedikit yang menggunakannya. [12]

Recent Posts