Gaji Naik, Pakar IT Laris

Gaji Naik, Pakar IT Laris

Gaji Naik, Pakar IT Laris

Pada tahun 2018, permintaan terhadap tenaga informatika dan teknologi (IT) akan semakin tinggi. Hal tersebut karena perusahaan-perusahaan di Indonesia, berlomba-lomba membangun platform digital untuk bisnis. Selain itu, dunia kerja akan dipenuhi generasi millenial yang hobi berpindah-pindah pekerjaan.

Dalam Salary Survey yang dirilis perusahaan rekrutmen profesional Robert Walters kemarin (22/11), tenaga profesional di Indonesia akan mendapatkan kisaran 35 persen kenaikan gaji. 20 hingga 30 persen kenaikan gaji diperkirakan dinikmati tenaga bidang Human Resource Development (HRD), Sales dan Marketing.

Pengamat IT Sulut Lalana Malik menilai, dengan perkembangan teknologi yang terjadi di zaman sekarang, pastinya setiap perusahaan sudah menggunakan teknologi berbasis computer. Maka dari itu, perusahaan menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli pada bidang IT. “Teknologi semakin canggih, permintaan tenaga IT makin dicari setiap perusahaan. Tak jarang hal tersebut dianggap para tenaga ahli adalah kesempatan dalam menuntut gaji tinggi,” beber Malik yang sementara menimba ilmu di Pascasarjana Unsrat.

Perkembangan teknologi sekarang, beber Malik, bisa dilihat dari banyaknya bank yang menambah layanan e-banking. Begitu pula dengan perusahaan yang memakai transaksi secara online. “Otomatis posisi tersebut mesti diduduki profesional IT. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, perusahaan bisa rugi,” tegasnya.

Pengamat Ekonomi Sulut Dr Jerry Wuisang menilai sifat bekerja yang berpindah-pindah pada tenaga ahli di era milenial, menimbulkan nilai positif dan negatif. Dari tinjauan positif, hal tersebut bisa meningkatkan finansial seseorang dalam pendapatnya setiap hari. Hal tersebut wajar dipilih karena mengingat skill expert yang dimiliki. “Mereka (tenaga ahli, red), berpikir mungkin memiliki keahlian khusus. Jadi, memilih bekerja tidak menetap,” ungkap Wuisang.

Segi negatifnya, fenomena tersebut akan membuat goyah

suatu ekonomi perusahaan. Sebab, bisa saja perusahaan sudah sangat berharap banyak dengan kinerja tenaga ahli, kemudian mengundurkan diri dengan alasan gaji kecil. “Hal ini bisa menggoyahkan suatu perusahaan dan ekonomi kemasyarakatan,” tandasnya.

Ditambahkannya, perusahaan sekarang ini mesti mengambil langkah dalam menentukan fasilitas ataupun gaji yang diberikan kepada tenaga ahli. Perusahaan bisa memilih untuk memberikan jaminan fasilitas traveling atau bonus lainnya. “Agar para expert tersebut bisa betah bekerja di perusahaan dan juga ada waktu buat bersantai. Kebanyakan tenaga ahli adalah tipikal orang yang mempunyai prinsip hidup tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Toby Fowlston, Managing Director untuk Robert Walters Asia Tenggara

mengatakan, tren digitalisasi yang menyapu kawasan telah memacu banyak bisnis untuk menciptakan platform online atau mobile. Karena perusahaan berusaha meningkatkan daya saing mereka dan meningkatkan pangsa pasar dengan konsumen.

Sebagai hasil dari transformasi ini, banyak perusahaan yang ingin

mempekerjakan para profesional dengan keahlian digital, baik di bidang pemasaran dan teknologi informasi, terutama mereka yang mahir dalam menjalankan infrastruktur digital back office atau dengan keahlian teknologi khusus.

 

Baca Juga :