Definisi Kebudayaan Islam

Definisi Kebudayaan Islam

Definisi Kebudayaan Islam

Definisi Kebudayaan Islam
Definisi Kebudayaan Islam

Al Qur’an merupakan

Al Qur’an merupakan kebudayaan itu sebagai suatu proses dan meletakkan kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia. Kebudayaan merupakan suatu totalitas kegiatan manusia yang meliputi kegiatan akal hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu perbuatan. Karena itu secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi, cipta rasa, karsa, dan karya manusia. Ia tidak mungkin terlepas dari bilai-nilai kemanusiaan, namun bisa jadi lepas dari nilai-nilai ketuhanan.

Kebudayaan islam adalah

Kebudayaan islam adalah hasil olah, akal, budi, cipta, rasa, karsa, dan karya manusia berladaskan pada nilai-nilai tauhid. Islam sangat menghargai akal untuk terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal berkembang menjadi sebuah peradaban.

 

Kebudayaan Islam merupakan

Kebudayaan Islam merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat ideal,sempurna, praktis,aktual, diakui keberadaannya dan senantiasa diekspresikan. Sistem yang ideal berdasarkan pada hal-hal yang biasa terjadi dan berkaitandengan yang aktual (Picktchall, 1993: 26-29).

Sistem Islam menerapkan

Sistem Islam menerapkan dan menjanjikan perdamaian dan stabilitas dimanapun manusia berada, karena pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT,yang berbeda justru hanya terletak pada unsur-unsur keimanan dan ketakwaannya saja.

Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada dan aturan-aturan yang bersumber dari nafsu hewani, sehingga akan merugikan diri sendiri. Islam dalam hal ini, bermanfaat untuk memberikan petunjuk kepada manusia dalam upaya agar dapat menumbuhkembangkan akal budi, sehingga memperoleh kebudayaan yang memenuhi aturan-aturan dan norma-norma agama serta menghasilkan yang beradab dan peradaban islam.

 

Perkembangan kebudayaan

Perkembangan kebudayaan yang didasari dengan nilai-nilai keagamaan, agama memiliki fungsi yang demikian jelas. Maju dan mundurnya kehidupanumat manusia itu,mengalami kemandegan, hal ini disebabkan adanya hal-halyang terbatas, dalam memecahkan berbagai macam persoalan dalam hidup dankehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu petunjuk berupa wahyu Allah SWT. Allah SWT memilih seorang Nabi dan Rasul dari manusia, sebab yang akanmenjadi bimbingannya adalah manusia juga, oleh karena itu tujuan utama misi Muhammad Rasulullah saw adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Nabi Muhammad saw dalam mengawali tugas kenabian dan kerasulannyamendasarkan diri pada asas-asas kebudayaan Islam, yang selanjutnya tumbuh danberkembang menjadi suatu peradaban yaitu peradaban Islam. Nabi Muhammad saw pada waktu berdakwah, keluar dari jazirah Arab dan seterusnya menyebar keseluruh penjuru dunia, maka terjadilah proses asimilasi berbagai macam kebudayaan dengan nilai-nilai Islam kemudian menghasilkan kebudayaan Islam yang pada akhirnya akan berkembang menjadi suatu kebudayaan yang diyakini kebenarannya secara universal.

Islam sebagai suatu agama, secara sungguh-sungguh mendorong manusia untuk berusaha melalui pribadi dan kelompoknya, agar dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik, sehingga menjadi suatu kekuatan di dunia (Picktchall,1993: 7).

SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM

Dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution, dilihat dari segi perkembangan perkembangannya, sejarah intelektual islam dapat dikelompokkan ke dalam tiga masa yaitu masa Klasik, yaitu antara tahun 650-1250 M. Masa pertengahan yaitu tahun 1250-1800 M. Dan masa modern yaitu tahun 1800-sampai sekarang.

Pada masa Klasik (650-1250)

Merupakan awal pembabakan peradaban Islam. Periode ini dimulai ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Pada masa ini lahir para ulama Madzhab seperti Imam Hambali, Imam Syafii, dan Imam Malik. Sejalan dengan itu lahir pula para filosuf muslim seperti al-kindi tahun 801 M, seorang filosuf muslim pertama. Diantara pemikirannya ia berpendapat bahwa kaum muslimin hendaknya menerima filsafat sebagai bagian bagian dari kebudayaan islam. Selain al-kindi, pada abad itu lahir pula filosuf besar seperti al-Razi, lahir tahun 865 M, al-Farabi lahir tahun 870 M. Dia dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Pada abad berikutnya lahir pula filosuf agung Ibnu Miskawaih pada tahun 930 M, pemikirannya yang terkenal tentang pendidikan akhlak kemudian Ibnu Sina tahun 1037 M, Ibnu Bajjah tahun 1138 M, Ibnu Rusyd tahun 1126 M, dan lain-lain.

Pada masa pertengahan (1250-1800)

Pada masa pertengahan, menurut sejarah pemikiran Islam dinilai mengalami kemunduran, sebab filsafat mulai ditinggalkan oleh umat Islam, sehingga terdapat usaha untuk mempertentangkan antara akal dengan wahyu, iman dengan ilmu, dunia dengan akhirat. Pengaruh tersebut masih dapat dirasakan sampai saat ini dan hal ini dibuktikan dengan tidak ada daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Islam yang secara utuh melingkupi beberapa kerajaan Islam, di antaranya Kerajaan Usmani, Safawi dan Mogul dan pada periode pertengahan ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian terbatas.
Sebagian pemikir islam kontenporer sering melontarkan tuduhan kepada al-Gazali yang pertama yang menjauhkan filsafat dengan agama sebagaimana dalam tulisannya “tahafutul falasifah” (kerancuan Filsafat). Tulisan Al- Gazali dijawab oleh Ibnu Rusyd dengan tulisan “tahfutu tahafut” (kerancuan di atas kerancuan).
Ini merupakan awal kemunduran ilmu pengetahuan dan filsafat di dunia islam. Sejalan dengan perdebatan dikalangan filosuf muslim juga terjadi perdebatan diantara fuqaha (ahli fiqih) dengan para ahli teologi (ahli ilmu kalam). Pemikiran yang berkembang saat itu adalah pemikiran dikotomis antara agama dengan ilmu dan urusan dunia dengan akhirat. Titik kulminasinya adalah ketika para ulama sudah mendekat kepada para penguasa pemerintah, sehingga fatwa-fatwa mereka tidak lagi diikuti oleh umatnya dan kondisi umat menjadi carut marut kehilangan fitur pemimpin yang dicintai umatnya.

Pada masa Modern (1800-sekarang)

Pada periode modern, umat Islam bangkit kembali, maka periode ini dikatakan sebagai Masa Kebangkitan Islam, dan hal ini ditandai dengan adanyakesadaran umat Islam terhadap kelemahan-kelemahannya, sehingga ada kehendak membangkitkan kembali ilmu pengetahuan dan teknologi; maka kemudian lahirlah para tokoh pembaharu dan para filosof Islam dari berbagai negara Islam di dunia ini (Tim Penulis Ensiklopedi Islam, 1997: 258). Pembaharuan dalam Islam pada prinsipnya merupakan usaha untukmemberi penafsiran kembali terhadap ajaran-ajaran Islam yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi perkembangan zaman, sebagai akibat timbulnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk mengajak umat Islam melepaskan diri dari ikatan kejahiliyahan menuju kepada perkembangan dan kemajuan.

 

Sumber : https://dosen.co.id