dalil taubat

PENGERTIAN TOBAT

Kata taba yang darinya terbentuk antara lain kata taubat, pada mulanya berarti “ kembali”. Orang bertobat kepada allah adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat tercelah menuju sifat yang terpuji, kembali dari larangan allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiaat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci allah menuju yang diridhai-Nya, kembali dari saaling bertentangan menuju saling menjaga persatuan, kembali kepada allah setelah meninggalka-Nya dan kembali taat setelah melanggar laranga-Nya. Dalam ayat dibawah ini pelaku dari kata “ kembali” adalah Allah swt sendiri. Sekian banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang tobat (kembali-nya) Allah, antara lain surat al-ahzab ayat 73:

artinya: “sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs.Al-Ahzab:73)

Dari sini dapat dikatakan bahwa baik tuhan maupun manusia keduanya “ kembali”. Dalam hal ini, agaknya ingin digambarkan adalah bahwa pada prinsipnya dan mulanya manusia berada dalam posisi yang sangat berdekatan dengan tuhan. Namun, apabila ia melangka, maka ia telah melangkah menjauhinya dan tuhanpun melangkah menjauh darinya. Apabilah manusia menyadari kesalahanya, bertekat untuk tidak mengulanginya serta memohon ampun dari Allah, maka pada saat itu ia dinamai bertobat atau “ kembali” menuju posisi semula.

Sedangkan menurut pendapat para ulama yang dimaksud tobat adalah membersihkan hati dari segalah dosa. Pendapat yang lain mengatakan bahwa tobat adalah meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kejahatan seperti yang telah pernah dilakukunya karena membesarkan allah swt dan menjauhkan diri dari kemurkaanya.

2. BENTUK DAN CONTOH TOBAT

Dosa manusia itu tidak hanya kepada allah, tetapi dosa itu bisa kepada sesama manusi. Dosa kepada allah seperti; meninggalkan shalat, meninggalkan puasa, dan kewajiban yang lain. Dosa kepada sesama manusia seperti, meninggalkan zakat, membunuh jiwa, merampas harta dan mencaci orang lain.

Dosa kepada Allah amat mudah bagi kita untuk bertobat yaitu dengan cara 1). Memohon ampun kepada allah 2). Ada rasa penyesalan yang mendalam dan 3) niat yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu.
Berbeda dengan jika dosa itu terkait dengan hamba atau manusia yang lain, maka proses tobat atau pengampunan itu lebih berat, seperti didasarkan oleh rasulullah SAW.

Artinya : “ Catatan itu tiga yaitu catatan yang di ampuni, dan catatan yang tidak di ampuni dan catatan yang tidak ditinggalkan. Catatan yang di ampuni adalah dosa-dosa hamba, antara mereka dan Allah. Adapun catatan yang tidak di ampuni adanya menyekutukan Allah. Adapun catatan yang tidak ditinggalkan adalah perbuatan-perbuatan aniyaya yang dilakukan oleh hamba.” ( HR Ahmad dan al- Hakim dari hadits Aisyah r.a)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk tobat itu amat tergantung dengan dosa yang dilakukan.

Selain itu, bentuk dan contoh tobat sangat tergantung pula dengan jenis dosa yang dilakukan. Para ulama ada yang membagi dosa itu kedalam dosa besar dan dosa kecil, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa tidak ada dosa kecil maupun dosa besar, bahkan setiap menyalahi allah, maka itu adalah dosa besar. Namun ini pendapat yang lemah, karena Allah SWT berfirman

“ Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. ( Qs an-Nisaa’:31)

Tobat bukan hanya sekedar sarana penghapus dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Karena itu, sekalipun tidak berdosa, namun tetap diperintahkan untuk bertobat. Ini artinya tobat hukumnya wajib bagi setiap mukmin, Oleh karena itu sekalipun Rasulullah saw sudah terpelihara dari dosa, tetapi bertobat dan mintak ampun kepada allah swt, tidak kurang dari 70 kali dalam sehari semalam.


Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/