Capai Kenyamanan Siswa dengan SRA

Capai Kenyamanan Siswa dengan SRA

Capai Kenyamanan Siswa dengan SRA

Capai Kenyamanan Siswa dengan SRA
Capai Kenyamanan Siswa dengan SRA

Sekolah sudah seharusnya menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan bagi siswa

. Salah satu upaya untuk mencapai kenyamanan tersebut, yakni dengan dikembangkannya Sekolah Ramah Anak (SRA).

Program pengembangan SRA merupakan upaya penjamin dan pemenuhan hak-hak hidup pada anak tanpa diskriminasi, kepentingan serta bentuk penghargaan terhadap anak.

Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak bahwa anak mempunyai hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

”Sekolah ramah anak bukan berarti memberikan kebebasan kepada sang anak, tetap ada kedisiplinan yang harus diterapkan. Adapun ruang lingkup yang terlibat dalam SRA ini, yakni keluarga sebagai pusat pendidikan utama dan pertama bagi anak,” tutur Praktisi Pendidikan Kemasyarakatan Provinsi Jawa Barat Nike Kamarubiani, dalam Workshop Penyusunan Bahan Kebijakan SRA di Ruang Papandayan Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (15/10), dikutip dalam laman resmi Disdik Jabar.

Selain keluarga, lanjutnya, sekolah juga berperan penting dalam memberikan pendidikan

sesuai kurikulum dan standar nasional. Tak hanya itu, sekolah pun berhak menerapkan disiplin, memberikan tempat yang aman, sehat, hijau, inklusif, dan nyaman bagi perkembangan fisik anak serta kognisi dan psikososial peserta didik. Terakhir, peran masyarakat sebagai tempat pendidikan setelah keluarga dan sekolah.

Adapun prinsip-prinsip penyelenggaraan sekolah ramah anak yang harus diterapkan, diantaranya sekolah dituntut mampu menjadi media pembelajaran bagi siswa. Tidak sekadar tempat belajar, tetapi wadah yang menyenangkan bagi anak.
”Dunia anak adalah bermain. Dalam bermain itulah, anak bisa melakukan proses belajar. Selain itu, sekolah juga memperkenalkan persaingan yang sehat dalam proses belajar mengajar,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/