Broad Fields Curriculum

Broad Fields Curriculum

Kurikulum Broad Fields kadang-kadang disebut kurikulum fusi. Taylor dan Alexander menybutkan dengan sebutan The Broad Fields of Subject Matter. Broad Fields menghapuskan batas-batas dan menyatukan matapelajaran (subject matter) yang berhubungan erat. Hilda Taba mengatakan bahwa The broad fields curriculum is essentially an effort to automatization of curriculum by combining several specific areas large fields (The broad fieldscurriculum adalah usaha meningkatkan kurikulum dengan mengombinasikan beberapa matapelajaran). Sebagai contoh: sejarah, geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik disatukan menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Phenik adalah orang yang mencetuskan tipe organisasi broad fields ini. Keinginan Phenik adalah agar pendidik mengerti jenis-jenis arti perkembangan kebudayaan yang efektif; mengerti manfaat yang didapakan dari berbagai ragam disiplin ilmu; dan upaya mendidik anak agar menghasilkan suatu masyarakat yang civilized (beradab).

Phenik mengemukakan lima dasar logikanya yang kemudian menghasilkan ilmu broad fields berikut:

a. Symbies: Bahasa Matematika, dan bentuk-bentuk Simbol Non Diskursif.
b. Experics: Musik, Seni Gerak, Sastra, Agama, dan lain sebagainya.
c. Syunnetics: Filsafat, Psikologi, Sastra, Agama, dan lain sebagainya.
d. Ethics: berbagai aspek moral dan tata adab.
Soetopo & soemanto (1993: 78) mengemukakan bahwa keunggulan kurikulum broad fields adalah adanya kombinasi matapelajaran sehingga manfaatnya akan semakin dirasakan, dan memungkinkan adanatapelajaran sehingga manfaatnya akan semakin dirasakan, dan memungkinkan adanya matapelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar serta generalisasi.
Sedangkan kelemahannya adalah hanya memberikan pengetahuan secara sketsa, abstrak, dan kurang logis dari satu matapelajaran. [8]
4. Integrated Curriculum
Kurikulum terpadu (integrated curriculum) merupakan suatu produk dari usaha pengintegrasian bahan pelajaran dari berbagai macam pelajaran. Integrasi diciptakan dengan memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan solusinya dengan materi atau bahan dari berbagai disiplin atau matapelajaran.
Kurikulum jenis ini membuka kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan kerja kelompok, masyarakat dan lingkungan sebagai sumber belajar, mementingkan perbedaan individual anak didik, dan dalam perencanaan pelajaran siswa diikutsertakan. Kurikulum terpadu sangat menguntamakan agar anak didik dapat memiliki sejumlah pengetahuan secara fungsional dan mengutamakan proses belajarnya. Yang dimaksudkan cara memperoleh ilmu secara fungsional adalah karena ilmu tersebut dikelompokkan berhubungan dengan usaha memecahkan masalah yang ada. Sebagai contoh, dengan belajar membuat, anak didik sekaligus mempelajari hal-hal lain yang berkaitan dengan listrik, siaran, penerimaan, dan sebagainya (Nasution, 1993: 111).
Integrated Curriculum mempunyai ciri yang sangat fleksibel dan tidak menghendaki hasil belajar yang sama dari semua anak didik. Guru, orangtua, dan anak didik merupakan komponen-komponen yang bertanggung jawab dalam proses pengembangannya. Di sisi lain, kurikulum ini juga mengalami kesulitan-kesulitan bagi anak didik, terutama apabila dipandang dari ujian atau tes akhir atau tes masuk yang uniform. Sebagai persiapan studi perguruan tinggi yang memerlukan pengetahuan yang logis dan sistematis, kurikulum jenis ini akan mengalami kekakuan. Meskipun demikian, selama percobaan delapan tahun (1932-1940) dengan kurikulum terpadu ini, anak didik dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan tidak kalah dengan prestasi anak didik lain yang menggunakan kurikulum konvesional, dan justru mereka memiliki nilai tambah dalam hal perkembangan dan kemantapan kepribadian serta dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.

Recent Posts