Berani Mencintai Seorang Asing

Berani Mencintai Seorang Asing

Berani Mencintai Seorang Asing

Berani Mencintai Seorang Asing
Berani Mencintai Seorang Asing

Setelah sekian lama di medan perang, seorang tentara Amerika yang masih muda akhirnya diijinkan untuk pulang. Saat tiba di San Francisco, dia menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dia telah sampai. Namun sebelum beranjak pulang, dia menyampaikan suatu permintaan. “Aku akan pulang, tapi aku punya sebuah permintaan. Aku akan mengajak seorang teman untuk pulang bersamaku,” jelasnya. Dengan segera orang tuanya menyanggupi dan mengatakan mereka akan sangat senang bertemu dengan temannya itu. “Tapi ada yang harus kalian ketahui, dia terluka sangat parah saat berperang. Dia menginjak ranjau dan harus kehilangan sebelah lengan dan kakinya. Tidak ada tempat untuknya tinggal, aku mau dia tinggal tinggal dengan kita,” tentara itu menambahkan. Mendengar itu, orang tuanya segera bersimpati, “Oh, kami turut bersedih mendengarnya, Nat. Mungkin kita bisa membantunya untuk menemukan tempat tinggal di sekitar sini.” Namun anak itu berkeras, “Tidak, aku mau dia tinggal bersama kita.” Sang ayah mengambil alih pembicaraan. “Nak, kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Seseorang dengan kekurangan yang demikian akan sangat merepotkan. Kita juga punya hidup sendiri yang harus diurus, dan kita tidak bisa begitu saja membiarkan hal seperti ini mengganggu kelangsungan hidup. Menurutku kamu pulang saja tanpa dia, dan lupakan keinginanmu itu. Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk hidup.” Setelah mendengar semua perkataan ayahnya, tentara ini hanya diam tak mampu berkata apa-apa lagi hingga ayahnya memutuskan pembicaraan. Semenjak itu orang tuanya tidak lagi mendengar kabar dari anaknya. Mengira si anak masih diliputi kejengkelan, orang tuanya memilih untuk membiarkan saja hingga dia sadar dan pulang ke rumah. Beberapa hari kemudian, mereka mendapat telepon dari kepolisian San Francisco. Anak mereka, si tentara itu, telah meninggal setelah loncat dari atap sebuah gedung. Kepolisian yakin itu adalah bunuh diri. Dalam kesedihan luar biasa orang tua tentara ini terbang ke San Francisco dan dibawa ke kota yang bersangkutan untuk mengenali jenazah anaknya. Kain penutup dibuka, mereka mengenali wajah putra mereka. Namun begitu kain tersingkap hingga perut, mereka tidak lagi sanggup untuk berkata-kata. Jenazah itu hanya memiliki satu lengan dan satu kaki. Teman yang dia sebut di telepon itu ternyata dirinya sendiri. Jika si anak mengaku bahwa dirinya kehilangan lengan dan tangan, kemungkinan besar orang tua ini masih menerimanya dengan tangan terbuka dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi dengan perumpamaan ‘seorang teman’, anak ini tahu bahwa sesungguhnya orang tuanya merasa kerepotan dengan kondisi cacat yang demikian. Hanya karena apapun kondisinya anak akan tetap menjadi anak, maka orang tua itu menerimanya. Namun bukan karena kasih yang tulus. Ketulusan dalam mengasihi masih menjadi tugas tersulit bagi manusia. Seringkali kita mau berkorban, mau menderita karena orang yang kita tolong itu adalah seseorang yang spesial untuk kita. Tanpa sadar kita sering mengasihi orang lain karena suatu alasan tertentu, diperintah oleh rasa takut, rasa kagum, rasa sungkan, bahkan karena tujuan tersembunyi untuk mendapatkan balasan yang lebih besar. Cintailah orang asing dengan tulus hati, tanpa ketakutan dan tanpa mengharapkan balasan, maka Anda akan mampu untuk benar-benar mengasihi orang-orang terdekat dengan lebih baik lagi. ‘Sumber : https://icanhasmotivation.com/