Aliran Ijtimak Semata

Aliran Ijtimak Semata

     Aliran ini menetapkan bahwa awal bulan kamariah dimulai ketika terjadi ijtimak (conjunction). Para pengikut aliran ini mengemukakan adagium yang terkenal “ijtima’ al-Nayyiroin ithbatun bayna al-Syahrayni”. Yakni bertemunya dua benda yang bersinar (matahari dan bulan) yang merupakan pemisah diantara dua bulan.  Kriteria awal bula (Newmoon) yang ditetapkan oleh aliran ijtimak semata ini sama sekali tidak memperhatikan rukyah artinya tidak mempermasalahkan hilal dapat terlihat atau tidak.  Dengan artian tidak mempedulikan hilal dapat dilihat ataupun tidak, ini membuktikan aliran ini semata-mata berpegangan pada astronomi murni. Karena dalam astronomi pergantian bulan semata-mata disebabkan adanya ijtimak.[8]

                 Pada saat menetukan awal bulan kamariah.  Aliran ini biasanya memadukan saat ijtimak tersebut dengan fenomena alam lain sehingga kriteria tersebut berkembang dan akomodatif.  Fenomena alam yang dihubungkan dengan saat ijtimak itu tidak hanya satu sehingga aliran ijtimak semata ini terbagi lagi menjadi aliran yang lebih kecil lagi[9]:

1)    Ijtimak Qabla al-Ghurub

Aliran ini memakai konsep ijtimak sebelum matahari terbenam. Jika ijtimak/konjungsi itu telah terjadi sebelum matahari terbenam,  maka pada malam hari tersebut sudah memasuki awal bulan baru (awal bulan berikutnya),  namun,  jika ijtimak itu terjadi pada malam hari,  maka hari esok masih menjadi hari terakhir bulan tersebut,  atau dapat dikatakan awal bulan terjadi pada lusa/hari berikutnya.  Aliran ini tidak mempersoalkan rukyah dapat terlihat ataupun tidak.

2)    Ijtimak Qabla al-Fajr

Aliran ini memiliki metode yang sama dengan sebelumnya,  kondisi rukyah al-hilal dianggap tidak penting sepanjang persyaratan astronomisnya terpenuhi.  Hanya saja,  jika sebelumnya ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam,  konsep ini menetapkan awal bulan kamariah (awal bulan baru) jika peristiwa ijtimak terjadi sebelum terbit fajar.  Jika ijtimak terjadi setelah terbit fajar, maka hari tersebut masih hari terakhir pada bulan tersebut dan awal bulan baru terjadi pada hari berikutnya,  setelah fajar.   Aliran ini juga berpendapat bahwa saat ijtimak tidak ada sangkut pautnya dengan terbenam matahari.

3)    Ijtimak dan Tengah Malam

Aliran ini berpedoman,  jika ijtimak terjadi sebelum tengah malam,  maka mulai tengah malam itu sudah masuk awal bulan baru/berikutnya.  Akan tetapi jika ijtimak terjadi setelah tengah malam,  maka malam tersebut,  masih termasuk hari terakhir pada bulan yang sama,  dan awal bulan ditetapkan pada tengah malam berikutnya.

Sumber :

https://littlehorribles.com/